Diposkan pada Lintas Waktu

BENARLAH..

..
..
Bahwa rumah ialah suatu tempat yang menjadi tujuan saat hatimu hendak pulang
Barangkali kau punya lebih dari satu
Walau sesuatu yang kau sebut rumah itu
hanya berupa bibir pantai yang dielus ombak,
pohon rindang yang terbias sinar senja,
persimpangan yang penuh lumpur dikala hujan,
atau sebuah kamar di kepala orang lain bernama entah siapa..

Bila semua hal bisa menjadi rumah, maka tidak dengan jendela
Jendela tidak milik semua orang, seperti halnya “rasa percaya”
Sekali kacanya pecah, maka ia tak lagi menghadirkan bahagia
Akan menyedihkan saat menatap keluar darinya
Barangkali yang punya jendela mampu memaafkan dengan memaksa seluruh hatinya
Namun luka belum tentu mampu mengering dengan segera, bahkan meninggalkan trauma

Berjalanlah..
Jarak akan mendewasakan diri..
Waktu akan menyembuhkan luka..
Lalu saat kau lelah, pulanglah kawan..
Aku masih di jendela, di rumah seberang sungai..

Tunggu..!
Apa kau punya rumah? Dan jendela?
Jika tidak, rumahku rumahmu jua..
Rehatlah, langit sepertiga malam menanti..

Rumah Bertumbuh
LPS

Iklan
Diposkan pada Lintas Waktu

NAMA DI BUKU TUA

*sepotong cerita lama di negeri seberang bukit (bagian kedua kumpulan prosa Cinta Dalam Diam) untuk sahabat-sahabat lama, dimanapun kalian berada

..

Malam-malam awal November. Barangkali kamu bukanlah orang asing lagi bagiku. Sudah hampir sebelas purnama kita kawani. Merondai malam bersama-sama. Aku tidak mengerti, bagaimana ini semua berawal. Obrolan kita hanyalah tentang meja kerja yang tidak pernah kosong, kawan-kawan yang memakai topeng sejak bangun tidur, bintang yang tidak jadi tenggelam di mata kita, dan tangga tua sebuah rumah di persimpangan tempat kita biasa menitipkan punggung saat bicara.

Dulu, bisa jadi kita sering berselisih jalan tanpa kenal, bersua di sela-sela waktu yang ngebut di jalanan, menatap tanpa sengaja namun tidak terfokus karena kemacetan di ruang kepala. Aku bahkan menemukan catatan lama yang tanpa sengaja memuat namamu di buku agenda tua. Dimana saat itu aku pernah berurusan denganmu tanpa sengaja. Jauh sebelum tiga belas purnama terkahir, 7 Oktober dulu tepatnya. Walau begitu aku masih ingat samar-samar, bagaimana kau dulu diantar oleh seseorang untuk menemuiku. Cuma urusan kerja dan aku belum terlalu merekam namamu waktu itu, hanya masih ingat wajahmu. Lalu aku menawarimu minum dengan gelas yang sebenarnya untukku, yang belum aku minum sama sekali. Hari itu pertemuan kita hanya sebentar, kita berhenti kurang dari lima belas hitungan menit.

Pernah, beberapa kali setelahnya kita bersua dalam keramaian yang begitu cepat. Menjadikanku tak dapat merekam semua nama, termasuk namamu. Tapi namamu, lagi-lagi ada di dalam buku agendaku. Aku baru menyadarinya sekarang. Bahkan dulu, aku pernah berkunjung ke komplekmu. Itulah ingatan awal terkuatku tentang wajahmu yang entah mengapa membuatku ingin terus saja berada di sisimu. Ingin membantumu, ingin peduli pada jiwa yang terkurung di dadamu.

Kita mulai sering bicara dengan rasa yang entah apa, setelahnya. Bukan kita, tapi aku yang merasakannya. Entahlah denganmu. Yang aku tahu, permen karet dariku buatmu siang itu telah melekatkan namamu di ingatanku. Aku entah mengapa berusaha ingin tahu apapun yang dirimu alami semenjak saat itu. Tentang hari itu, hari-hari setelahnya, atau hari ini barangkali. Semuanya. Lalu perihal lagu favoritmu, warna kesukaanmu, tanggal lahirmu, dan bagian siku atau lutut yang sering kamu keluhkan lebam karena terbentur sudut tempat tidurmu. Kamu ceroboh.

Dulu itu, aku sering berhasil dengan sengaja membuat kita berulangkali mengobrol menghabiskan malam berjam-jam, hingga luluh dan lelah. Kini, dimensi membuat banyak sekali labirin di kepala kita, menjadikan kita semakin sulit untuk bermain. Aku frustasi, terkadang. Labirin ini jadi makin menjebak jika siang menggelantung di leher langit. Hanya saat malamlah aku mulai berani melangkah, di pandu cahaya bintang, ia kawan lama yang karib bagiku.

Terkadang ada rindu yang membuncah meledak-ledak di ruang dada. Dan aku hanya mampu memudarkannya dengan menyimak suaramu berulang-ulang. Aku menyimpan rekaman obrolan kita yang aku ambil diam-diam di beberapa perjumpaan belakangan. Memang benar, menggapaimu tiba-tiba, saat rindu tetiba bertamu, adalah sebuah kemustahilan. Walaupun aku ingin, tapi kau tak akan mudah aku gapai.

Namun, sesekali Tuhan memberikan bonus unik pada kita, atau padaku tepatnya. Aku tidaktahu apakah kamu juga merasakannya. Bagiku, ada kebahagiaan tersendiri tatkala
ketidaksengajaan mempertemukan wajah kita. Lagi dan lagi. Walaupun di saat itu hanya mata kita yang saling bertemu. Meski barangkali kita hanya menyapa dengan cara saling mengangkat alis. Atau kita hanya saling mengetahui keadaan dari ukiran senyum masing-masing. Itu telah cukup bagiku. Mata, alis, dan bibirmu selalu mampu menjelaskan bagaimanapun kondisimu saat itu, tanpa suara. Aku sanggup melihatnya dengan jelas. Aku mampu menangkap sinyal apapun dari tubuhmu, sejak waktu itu. Mungkin aku saja yang terlalu peka. Mungkin saja. Menurutmu, apakah aku boleh untuk terus begini? Sayangnya, aku tak akan benar-benar menanyakan hal itu kepadamu. Karena aku sama sekali tidak akan siap, jika kamu secara sebelah pihak, menyuruhku untuk berhenti peduli tentangmu, walau hanya perihal sepele saja.

Pada buku agenda yang baru, kini aku menulis namamu dengan sengaja, bukan lagi seperti yang sudah-sudah. Aku bahkan telah membuat panggilan khusus untukmu. Agar kau mudah mengingat, dan langsung mengetahui, yang hanya aku, itu.

Diposkan pada Lintas Waktu

KAU YANG MENYEPARUH

*sepotong cerita (bagian awal kumpulan prosa Cinta Dalam Diam) untuk sahabat-sahabat lama, dimanapun kalian berada

 

Bagiku, hujan adalah setengah wujudmu yang tidak ada di sini. Setiap kali aku mengingatmu tanpa ingin, atau mengenangmu tanpa karena, entah mengapa aku selalu menginginkan hujan turun tiba-tiba saat itu juga. Akan ada kelegaan dan kebahagiaan yang riang berlarian tiba-tiba di ruang dada. Akan tersemburat senyum simpulku berlesung pipi yang seringkali kau suka. Aku jadi pecah rasa. Ingin sekali memasrahkan kulit pipi menjadi landasan terjunnya gerimis rindu, saat itu. Lalu ingin berdiam diri selama mungkin memandangi jatuhnya ribuan rintik dari balik jendela.

 

Entahlah. Entah apa yang dibawa hujan darimu. Aku tak bisa mendefinisikannya dengan simpanan kata-kata yang aku punya. Tak akan mengerti huruf-huruf di keyboard laptop bagaimana mereka mesti menyusunkan diri. Tak akan cukup berkitab-kitab puisi agar mampu menjelaskan rasa cinta sebagai anugerah dari Tuhan kita, yang kadang menguatkan, kadang menjerumuskan. Cukuplah. Cukup semua indraku saja yang bekerja.

 

Riuhnya hujan, barangkali bagi orang-orang hanyalah sebagai warta berita harian. Dilihat, tapi didengar ogah-ogahan. Namun bagiku tidaklah begitu, kau tahu. Hujan lebat tak menjadikannya ribut di telingaku. Aku entah mengapa menemukan suara-suaramu di sela-sela suara hujan. Panggilanmu, obrolanmu, ketawamu, nyanyianmu, bahkan juga tangisan dan amarahmu. Aku mendengarnya dengan jelas. Ini membuatku tertipu berkali-kali. Aku seringkali menoleh ke berbagai arah secara tiba-tiba, karena merasa mendengar suaramu di suatu tempat di riuhnya hujan. Ini menjengkelkan. Tapi inilah kejengkelan yang paling aku suka. Karena kamulah penyebab kejengkelan itu.

 

Aku masih ingat bagaimana kemarau menggandeng Oktober kali ini, hingga nyaris menyeparuh. Sampai-sampai kita berharap dengan keinginan yang sama persis, “Kapan ya, hujan turun lagi?”. Dan tepat setelah obrolan kita sore itu, hujan bertamu ke rumah kita masing-masing. Tiada hendak pergi, bahkan sampai kini, seminggu sudah ia menginap di hari-hari kita. Aku tak rusuh, bahkan lebih tepatnya, suka. Setiap kali hujan, maka setiap itu pula aku bisa dengan bebas merasakanmu ada, tanpa takut waktu menyuruhmu pulang. Aku bahkan sering diam-diam berjalan di bawah hujan hanya karena ingin menyiram bara rindu yang membakari ruang dada. Dan itu pun tanpa sepengetahuanmu. Karena jika kamu tahu, sudah barang tentu kamu tak akan melepaskanku bermain sendirian. Kamu ingin basah seperti basahku pula. Sumpah, berat bagiku untuk mengijinkanmu. Karena hujan terkadang membuatmu sakit. Kamu acap kali rapuh dengan cuaca.

 

Di saat tulisan ini telah jadi, hujan masih saja awet di luar jendela. Dua belas menit lagi tengah malam. Dan aku belum lagi ingin tidur. Aku ingin mengingatmu sebentar lagi saja. Aku tidak yakin, jika tertidur nanti, kamu sudi mampir di mimpiku, walau barang sesaat saja.

 

Apa kau ingat? Suatu sore, di waktu yang sudah sangat lama, entah telah berapa purnama saat itu. Kita sedang berbicara di telepon, sekedar menanya dan memastikan kalau masing-masing kita masih kuat menopang diri dari gejolak yang terjadi akhir-akhir itu. Di pertengahan obrolan, hujan turun dengan derasnya secara tiba-tiba. Kamu sontak bersorak kegirangan. Aku dengan jelas dapat mendengar kehebohanmu dari balik telpon. Terbayang di ruang mataku dengan sangat jelas, bagaimana rupamu saat itu. Aku tersenyum, mengira-ngira, apakah hujan juga mengingatkanmu pada diriku?

 

Kau tahu, jarak hanyalah pemisah antara aku dengan obrolan kita yang lama-lama mulai basi. Dan rindu adalah kolam bening yang membuatku selalu ingin memancingmu berkali-kali. Walau aku tahu pasti, aku tidak suka memancing. Dan kau selalu saja tertawa saat aku mengatakannya. Entahlah. Aku tidak tahu apakah kamu juga begitu kepadaku. Yang jelas semua bagian tubuh yang membantuku berbicara menjadi kaku seketika, saat aku mencoba berkata, “Aku menyayangimu”. Ah, aku malu.

 

Aku percaya pada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang lebih seru. Dengan masing-masing kita yang sudah tidak lagi sama. Dengan kata lain, kita telah berubah. Seseorang mengatakan kepadaku bahwa manusia pada akhirnya akan berubah. Aku berubah, kamu pun juga. Kita nanti adalah kita yang berubah, kita yang lebih kuat atas segala tempaan hidup yang telah kita lalui masing-masing.

 

Selamat datang, aku akan terus menyambut kelebatmu yang hadir di ruang kepala. Di masa depan, kita akan bertemu lagi berkali-kali. Hingga pertemuan abadi memayungi kita di ujung jalan, di syurga-Nya.

Diposkan pada Lintas Waktu

KAMU SIAPA? BERANI-BERANINYA…

Aku tak menemukanmu di kolong meja. Aku tak menemukanmu di lembar kosong yang hendak aku tulis. Disaat aku membuka kulkas, aku malah teringat akan sebuah jeruk darimu dulu. Sewaktu aku melewati sudut yang dingin itu, lagi-lagi aku tak melihat siluetmu untuk yang kesekian kalinya. Dan entah mengapa, aku dibuat bolak balik di ruang sempit ini. Mencoba menerka-nerka. Apakah kamu benar-benar telah hilang hingga ke bayang-bayang. 

Namun, semakin aku berputar-putar, semakin nyata segala fatamorgana. Aku dapat dengan jelas mendengar suara tawamu yang lucu, amuk marahmu yang bertubi-tubi, dan rengekanmu yang amat jelek dari segala penjuru.

Palsu, aku tahu ini semua tidak nyata. Namun semakin aku menepisnya, semakin aku gundah dibuatnya. Siapa sih, kamu? Berani-beraninya membuat aku rindu?

IMG_20170523_131041.JPG

@YWAR, 12.19, teruntuk kawan lama. 

Diposkan pada Lintas Waktu

TITIP SALAM

Angin malam sepoi-sepoi menyapu rambutku. Di belakang sini sunyi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Berbeda sekali jika aku ke bagian depan. Orang riuh meributkan drama yang sedang mereka “nobar”kan.

Aku menghela nafas panjang. Lurus beberapa meter di depanku, terpantul bayangan diri pada jendela panjang lagi buram. Aku seakan asing dengan bayanganku sendiri. Aku seperti merasa aku bukanlah aku. Ada kepura-puraan pada air muka disana. Pura-pura tangguh, padahal rapuh.

Kulayangkan mata ke langit gelap di atasku. Benar-benar gelap, tak berbintang. Bintang? O, iya ya. Sedari kecil kan aku menyukainya. Aku pernah ditanya sewaktu aku SMP dulu. Suka mana antara matahari, bulan, dan bintang? Lantas dengan mantap aku memilih bintang. Yang tidak sepongah matahari, dan tidak datang-pergi seperti bulan. Bintang memang bercahaya redup, tapi siang malam dia tetap di tempat yang sama. Tidak pernah pergi. Sekalipun cahayanya dikalahkan matahari, ataupun diselimuti awan.

Dulu sekali, hampir setiap malam aku berbicara dengannya, para bintang, dari beranda di lantai dua rumah, di kampung halaman. Kadangkala aku tersenyum lega, tapi tidak jarang juga sampai menangis tersedu-sedu. Aku begitu percaya dengannya. Aku bahkan yakin dia tidak akan pernah menghianati aku seperti orang-orang itu, mereka yang telah aku percayai namun jahat diam-diam.

Aku kembali melayangkan pandang lebih luas. Benar,  memang pekat betul malam ini. Tak ada satu pun bintang yang cahayanya dapat kulihat. Angin tetap masih sepoi-sepoi menyapu rambutku. Saat ini, di luar sini, masih saja sepi. Aku sendiri, eh, bukan. Itu, aku berdua dengan seekor kucing kuning jantan yang sedang bergelung di tembok, tempat piring-piring biasanya ditumpuki. Pelan-pelan aku menujunya.

Merasa terusik, dia mengangkat kepala dan menatapku pelan. Entah mengapa aku tetiba saja tersenyum, pada seekor kucing. Bayangkan. Haha..

Kembali aku menarik nafas panjang. Ku ulurkan jemari mengelus-elus sekitaran telinga si Cing kuning. Sembari itu, kembali kulayangkan wajah menatap langit malam yang masih tetap saja pekat. Lamat-lamat aku menemukan satu bintang diantara awan pekat, just one, tidak berhasil menemukan yang lainnya.

Tetiba, entah dari mana datangnya, kalimat lama melintas di dalam benak ini.. 

“Aku suka bintang, lho Kak”

Spontan, tanpa aba-aba, berkelebatlah wajahnya di ruang mata. Aku masih ingat bagaimana dia tersenyum sambil mengatakan kalimat itu. Ya, Alloh.. I miss her. Sampaikan salamku padanya.

Tanganku masih terus mengelus-elus si Cing kuning. Pelan-pelan ku geser jemari ini mengelus-elus hingga ke bawah dagunya. Itu spot terbaik yang paling bikin kucing betah di elus lama-lama. Sesat kemudian kucing itu menatapku lagi. Entah mengapa aku kembali tersenyum melihatnya. Dengan bodohnya aku merasa Cing kuning tau apa yang sedang aku fikirkan. Aku sedikit memiringkan wajah padanya dan kembali dengan bodohnya bertanya..

“Cing, kamu ingat ga sama dia..?”

…..

“Itu.. yang pernah foto-in kamu dulu itu.. ”

images

@YWAR, 00.16, teruntuk sahabat, semoga dirimu juga masih menyukai bintang di langit sana. 

Diposkan pada Lintas Waktu

Kali Ini Terharu

A: Hallo Pa, Assalamu’alaikum..
P: Ha..! Wa’alaikumussalam. Sedang dinas kini, tu? (pertanyaan rutin pembuka topik)
A: Ndak, Pa. Lagi ngaji bareng kelompok.
P: Oo..dimana? Barusan Apa nelfon mah.. (pertanyaan rutin kalo telfon nggak diangkat-angkat)
A: Di dekat Pasar Baru, Pa. Tadi lagi di jalan Pa, ndak terjawab telfonnya.
P: Oo.. Singgah ke wisma adek? (pertanyaan rutin kalo mendengar Pasar Baru)
A: Ndak kayaknya, Pa. Nanti kemalaman pulang ke asrama. Sering hujan juga soalnya. (Mataku melirik jam di pergelangan tangan kiri,sudah setengah enam sore aja)
P: Oo..ya lah. Kamu ulang tahun sekarang kan? (ini pertanyaan aneh, padahal baru tiga bulan yang lalu milad aku)
A: Haa?? Haha.. Ndak ada  Na ulang tahun sekarang, Pa. Udah lewat pun. (Apa habis makan apa ya? Sampe ngawur begini..)

Kresek.. kresek.. (suara gaduh diujung telfon, sayup-sayup terdengar si Bungsu ngetawain Apa karna ngawur tiba-tiba, disambut suara Ama yang terdengar tidak begitu jelas)

M: Halo, Na..
A: Iya, Ma.. Apa kok tadi bilang Lhona Ulang tahun, Ma. Kan udah lewat.
M: Ulang tahun versi tahun Hijriyah-nya?
A: (Berfikir keras, tanggal berapa Hijriyah sekarang? Nah lho, besok libur Maulid Nabi ya?) Eh, iya Ma.. Emang sekarang.. Hahaha
M: Iya kan? Nah, udah ya. Ama ndak bikin paket nelfon.
A: Iya, Ma..ndak apa.

Telfon ditutup setelah saling memberi salam penutup. Kok aku bisa nggak ingat sama sekali ya, kalo hari ini 11 Rabi’ul Awal. Nggak ada maksud ngerayain sama sekali sih. Yang romantisnya itu.. Apa yang cuek dan Ama yang sering lupa, jadi ingat… Oohh my God.. sumpah.. Aku dibikin terharu sama mereka..

Lup U.. Ama and Apa.. ^_^

hqdefault

Diposkan pada Lintas Waktu

Dipukul Palu

Segera sesuatu selalu datang untuk dipukul palu..
sama saja seperti ombak pantai..
datang, tuntas, lalu datang lagi.
Sebagian kita menyukainya, memoloskan diri, mengejar atau dikejar, lalu terjerembab, basah. Namun bangkit lagi untuk mengejar atau dikejar. Berakhir dengan ending sunset, lalu tersenyum simpul, bahagia. Diabadikan, dengan selfi.
Sebagian lagi membencinya, merutuk saat kena basah, mengumpat saat kena ciprat, melihat ngeri pada gulungan yang datang. Endingnya marah dengan sunset, karna semakin gelap maka semakin dingin. Membekukan mata hatinya.


Begitu katanya, kata dia dalam benak menggema.