Posted in Lintas Waktu

Kali Ini Terharu

A: Hallo Pa, Assalamu’alaikum..
P: Ha..! Wa’alaikumussalam. Sedang dinas kini, tu? (pertanyaan rutin pembuka topik)
A: Ndak, Pa. Lagi ngaji bareng kelompok.
P: Oo..dimana? Barusan Apa nelfon mah.. (pertanyaan rutin kalo telfon nggak diangkat-angkat)
A: Di dekat Pasar Baru, Pa. Tadi lagi di jalan Pa, ndak terjawab telfonnya.
P: Oo.. Singgah ke wisma adek? (pertanyaan rutin kalo mendengar Pasar Baru)
A: Ndak kayaknya, Pa. Nanti kemalaman pulang ke asrama. Sering hujan juga soalnya. (Mataku melirik jam di pergelangan tangan kiri,sudah setengah enam sore aja)
P: Oo..ya lah. Kamu ulang tahun sekarang kan? (ini pertanyaan aneh, padahal baru tiga bulan yang lalu milad aku)
A: Haa?? Haha.. Ndak ada  Na ulang tahun sekarang, Pa. Udah lewat pun. (Apa habis makan apa ya? Sampe ngawur begini..)

Kresek.. kresek.. (suara gaduh diujung telfon, sayup-sayup terdengar si Bungsu ngetawain Apa karna ngawur tiba-tiba, disambut suara Ama yang terdengar tidak begitu jelas)

M: Halo, Na..
A: Iya, Ma.. Apa kok tadi bilang Lhona Ulang tahun, Ma. Kan udah lewat.
M: Ulang tahun versi tahun Hijriyah-nya?
A: (Berfikir keras, tanggal berapa Hijriyah sekarang? Nah lho, besok libur Maulid Nabi ya?) Eh, iya Ma.. Emang sekarang.. Hahaha
M: Iya kan? Nah, udah ya. Ama ndak bikin paket nelfon.
A: Iya, Ma..ndak apa.

Telfon ditutup setelah saling memberi salam penutup. Kok aku bisa nggak ingat sama sekali ya, kalo hari ini 11 Rabi’ul Awal. Nggak ada maksud ngerayain sama sekali sih. Yang romantisnya itu.. Apa yang cuek dan Ama yang sering lupa, jadi ingat… Oohh my God.. sumpah.. Aku dibikin terharu sama mereka..

Lup U.. Ama and Apa.. ^_^

hqdefault

Posted in Lintas Waktu

Dipukul Palu

Segera sesuatu selalu datang untuk dipukul palu..
sama saja seperti ombak pantai..
datang, tuntas, lalu datang lagi.
Sebagian kita menyukainya, memoloskan diri, mengejar atau dikejar, lalu terjerembab, basah. Namun bangkit lagi untuk mengejar atau dikejar. Berakhir dengan ending sunset, lalu tersenyum simpul, bahagia. Diabadikan, dengan selfi.
Sebagian lagi membencinya, merutuk saat kena basah, mengumpat saat kena ciprat, melihat ngeri pada gulungan yang datang. Endingnya marah dengan sunset, karna semakin gelap maka semakin dingin. Membekukan mata hatinya.


Begitu katanya, kata dia dalam benak menggema.

Posted in Surat Cintaku ^^

Aku Yakinkan pada Sejuta Masa

Aku mencintai rumah kelahiran melebihi cintaku pada sahabat di tanah rantau.

Bagaimanapun susahnya, kurangnya, sunyinya, kecilnya, pas-pasannya..aku akan merinduinya segera, sesaat setelah kaki ini melangkah menjauhi pintu untuk kembali berjuang di tanah rantau.

Rantau memang keren bagi orang kampung sepertiku. Berjalan menempuhnya sama menantangnya dengan menyelesaikan teka teki silang. Bikin penasaran dan ingin agar segera berakhir. Saat jatuh pada titik jenuh, tak ada tempat kembali senyaman rumah kelahiran.

Bagaimanapun, masakan ibu selalu memancing rindu masa lalu untuk berkata, “Ini adalah cinta selamanya yang tak tergantikan oleh makanan mahal manapun” (sesaat setelah menyentuh lidah). Tak akan ada rasa nyaman yang sama seperti saat merebahkan badan pada dinginnya kasur tipis lagi keras di kamar tidur mungil yang sudah beribu kali ditempeli kulit dekil masa lalu.

Bangunlah pagi-bagi. Hiruplah aroma rumput berembun di pematang sawah yang berbalut wangi asap dapur yang mengepul-ngepul. Lebih bikin candu dari pada putau, aku yakinkan pada sejuta masa.

Posted in Lintas Waktu

Terpaksa Ikhlas

“Aaaaaaaaaaaaaakkkkkk…….”

Berguling kiri dan kanan, berulang-ulang layaknya sebuah kaleng minuman soda yang disepak bolak balik. Pada titik jenuhnya aku berhenti, membentangkan tangan di kedua sisi dengan melemparnya, layaknya inginnya ku melempar rasa ragu yang sedang mewabah di dalam kepala. Layar NB ku masih terang menyala. Tepat di dekatnya sebuah SAMSUNG standar merah hitam tergeletak. Berhasil aku lempar dengan asal berkat sebuah SMS menyesakkan yang baru saja masuk. Aku menatap lurus menembus loteng kamar, memecah khayalan buruk akan masa depan yang belum jelas akan benar-benar begitu.

Sebentar lagi purnama berganti. Aku benci “kembali” dadakan begini. Aku memang acapkali bosan di sini, mono setiap hari hanya begini-begini melulu. Tapi aku lebih muak kembali ke pangkuan kota yang penuh dengan poles tipuan. Kembali di cuci otak, agar berpura-pura ramah pada kemunafikan.

Andai ada pilihan lain, yang membuat keseharianku cukup dengan laptop, wi-fi, Hp dan buku, serta sedikit manusia sibuk dengan kepedulian tinggi tanpa pencintraan.. aku pasti tak akan menengok pada “kembali” selagi bisa. Tapi dunia tak diatur oleh rasa muak pada ubun-ubun seseorang. Terpaksa. Patuh pada sistem aneh yang manusia pembuatnya sendiri tak berkutik.

Just, terpaksa ikhlas. Berharap niat untuk ikhlas berujung berkah. Kata orang bijak, bukan rejeki yang mesti dirisaukan karena memang sudah ada jatahnya masing-masing kita. Tapi ibadah kita,sudah layakkah?

Posted in Lintas Waktu

Perang dengan Langit

Mereka terburu-buru. sambil sesekali mengelap keringat. Menoleh jam di pergelangan tangan kiri berulang-ulang. Terus berkejaran dengan waktu menyusuri malam yang semakin pekat. Semuanya sudah diatur sesuai kesepakatan dan mereka tidak ingin terlambat sehingga membatalkan misi.

Ransel yang mereka bawa serasa semakin berat. Walau bagaimanapun isi di dalamnya tidak boleh rusak sedikitpun. Salah seorang dari mereka berhenti di sebuah warung yang letaknya nyaris tersembunyi di balik bayangan malam, membeli beberapa korek, sambil terus sesekali melihat kiri dan kanan. Dari kejauhan terlihat pemilik warung seperti berbisik-bisik padanya, bertanya sesuatu.

Ia menjawab sambil memelankan suaranya serendah mungkin..
“Ini perang angkasa TAHUN BARU..
Makhluk bumi menyerang langit dengan milyaran petasan roket..
Semoga langit tidak menyerang balik dengan hujan meteor..
Kami meniup terompet sebagai tanda akhir..
Semoga malaikat israfil tidak hadir..”

Posted in Lintas Waktu

die Lichter

Layar NB masih terang menyala. Pukul 2 malam lewat sedikit. Di luar masih ribut suara hujan sedari Isya. Tidak ada suara lain, hanya suara keyboard yang terdengar buru-buru karena beradu dengan jemari. Tadinya masih terdengar suara motor atau mobil yang sesekali lewat di depan rumah.

Sudah hampir lima belas kali lampu mati-mati nyala. Sebenarnya nyaris setiap malam. Tapi malam ini tidak cuma sekali. Sesaat terfikir yang serem-serem. Tapi segera aku tepis. Kembali dengan kesibukan awal. Aku sudah kembali fokus dengan berita-berita di layar NB jika dibandingkan dengan lampu mati. Sesekali googling info baru.

Seekor induk kucing mengeong di luar jendela. Sekali. Aku pikir tadinya telinga ini salah dengar. Terdengar sekali lagi. Aku masih belum percaya. Ternyata masih terdengar sekali lagi. Segera aku beranjak menuju jendela. Ternyata dia sedang berusaha mengintip ke dalam kamar. Posisinya berdiri dan kedua tangannya diletakkan di kaca jendela yang memang rendah. Dia kuyup. sepertinya habis dari jalanan. Aku buka jendela. Segera memintanya masuk. Aku tak ingin dilihat orang-orang yang lewat (kalau ada, dan kalau memang orang,hehe) melakukan hal aneh di tengah malam. Dia ribut sekali mengeong. Kedinginan barangkali. Atau memanggil anaknya. Jendela segera kututup. Aku menuju pintu kamar dan membukanya. Masih sambil ribut mengeong-ngeong, dia setengah berlari mengikutiku. Anaknya memang ada di kamar sebelah.

Yup. Sepertinya dia sudah bertemu dengan anaknya, sudah tidak ribut. Aku kembali menuju NB. Melanjutkan yang terbengkalai. Aku baru ingat bahwa tadinya NB aku lagi dicas. Aku lirik ke lampu batrainya, ternyata tidak nyala. Padahal kabel cas-nya tercolok dan juga terhubung dengan NB. Ah, masalah klasik. Ujung colokannya pasti goyah. Aku tarik pelan kabelnya agar sedikit goyang di ujung kabel cas. Sekali, dua kali, berkali-kali, masih tidak nyala.

Sambil berfikir aku melirik ke sekeliling apa yang salah. Tiba-tiba aku melengosh panjang. Lampu kan mati, haha.. (terlalu fokus membuatmu melupakan hal lainnya)

Posted in Lintas Waktu

Milagro

Sebulan ini benar-benar membuat lelah hati. Bertubi-tubi masalah datang beruntun. Selesai satu datang lagi, selesai satu datang lagi. Bahkan sempat terbersit menyerah begitu saja. Tapi sepertinya Tuhan masih sayang. Bersama mereka, teman-teman seperjuangan aku kembali dipapah berjuang. Sedikit lagi. Masih belum boleh berhenti.

Tuhan pernah bilang, saat rasanya tak mampu lagi memikul beban hidup, bayangkan pahala besar yang mengirinya. Kalau ikhlas. Semakin besar masalahnya semakin besar pahalanya. Tuhan sudah pastikan, tak satupun hamba-Nya yang pernah dirundung masalah sampai menghimpit dada dan mencekik leher. Semua masalah yang diberi pasti sesuai dengan kapasitas hamba-Nya. Jadi yakinkan di dalam hati, semua masalah yang datang pada kita hari ini pasti kita bisa melaluinya.

Masalah bukanlah masalah saat hati kita tidak bermasalah.

Percaya dengan tangan Tuhan. Saat kita berada di titik tersulit dari sebuah masalah bahkan merasa tiada berdaya dan pasrah.. jika tawakal Tuhan pasti menghadiahkan sebuah keajaiban. Pasti.

Keajaiban adalah kata lain dari kerja keras.