Diposkan pada Lintas Waktu

KAMU SIAPA? BERANI-BERANINYA…

Aku tak menemukanmu di kolong meja. Aku tak menemukanmu di lembar kosong yang hendak aku tulis. Disaat aku membuka kulkas, aku malah teringat akan sebuah jeruk darimu dulu. Sewaktu aku melewati sudut yang dingin itu, lagi-lagi aku tak melihat siluetmu untuk yang kesekian kalinya. Dan entah mengapa, aku dibuat bolak balik di ruang sempit ini. Mencoba menerka-nerka. Apakah kamu benar-benar telah hilang hingga ke bayang-bayang. 

Namun, semakin aku berputar-putar, semakin nyata segala fatamorgana. Aku dapat dengan jelas mendengar suara tawamu yang lucu, amuk marahmu yang bertubi-tubi, dan rengekanmu yang amat jelek dari segala penjuru.

Palsu, aku tahu ini semua tidak nyata. Namun semakin aku menepisnya, semakin aku gundah dibuatnya. Siapa sih, kamu? Berani-beraninya membuat aku rindu?

IMG_20170523_131041.JPG

@YWAR, 12.19, teruntuk kawan lama. 

Diposkan pada Lintas Waktu

TITIP SALAM

Angin malam sepoi-sepoi menyapu rambutku. Di belakang sini sunyi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Berbeda sekali jika aku ke bagian depan. Orang riuh meributkan drama yang sedang mereka “nobar”kan.

Aku menghela nafas panjang. Lurus beberapa meter di depanku, terpantul bayangan diri pada jendela panjang lagi buram. Aku seakan asing dengan bayanganku sendiri. Aku seperti merasa aku bukanlah aku. Ada kepura-puraan pada air muka disana. Pura-pura tangguh, padahal rapuh.

Kulayangkan mata ke langit gelap di atasku. Benar-benar gelap, tak berbintang. Bintang? O, iya ya. Sedari kecil kan aku menyukainya. Aku pernah ditanya sewaktu aku SMP dulu. Suka mana antara matahari, bulan, dan bintang? Lantas dengan mantap aku memilih bintang. Yang tidak sepongah matahari, dan tidak datang-pergi seperti bulan. Bintang memang bercahaya redup, tapi siang malam dia tetap di tempat yang sama. Tidak pernah pergi. Sekalipun cahayanya dikalahkan matahari, ataupun diselimuti awan.

Dulu sekali, hampir setiap malam aku berbicara dengannya, para bintang, dari beranda di lantai dua rumah, di kampung halaman. Kadangkala aku tersenyum lega, tapi tidak jarang juga sampai menangis tersedu-sedu. Aku begitu percaya dengannya. Aku bahkan yakin dia tidak akan pernah menghianati aku seperti orang-orang itu, mereka yang telah aku percayai namun jahat diam-diam.

Aku kembali melayangkan pandang lebih luas. Benar,  memang pekat betul malam ini. Tak ada satu pun bintang yang cahayanya dapat kulihat. Angin tetap masih sepoi-sepoi menyapu rambutku. Saat ini, di luar sini, masih saja sepi. Aku sendiri, eh, bukan. Itu, aku berdua dengan seekor kucing kuning jantan yang sedang bergelung di tembok, tempat piring-piring biasanya ditumpuki. Pelan-pelan aku menujunya.

Merasa terusik, dia mengangkat kepala dan menatapku pelan. Entah mengapa aku tetiba saja tersenyum, pada seekor kucing. Bayangkan. Haha..

Kembali aku menarik nafas panjang. Ku ulurkan jemari mengelus-elus sekitaran telinga si Cing kuning. Sembari itu, kembali kulayangkan wajah menatap langit malam yang masih tetap saja pekat. Lamat-lamat aku menemukan satu bintang diantara awan pekat, just one, tidak berhasil menemukan yang lainnya.

Tetiba, entah dari mana datangnya, kalimat lama melintas di dalam benak ini.. 

“Aku suka bintang, lho Kak”

Spontan, tanpa aba-aba, berkelebatlah wajahnya di ruang mata. Aku masih ingat bagaimana dia tersenyum sambil mengatakan kalimat itu. Ya, Alloh.. I miss her. Sampaikan salamku padanya.

Tanganku masih terus mengelus-elus si Cing kuning. Pelan-pelan ku geser jemari ini mengelus-elus hingga ke bawah dagunya. Itu spot terbaik yang paling bikin kucing betah di elus lama-lama. Sesat kemudian kucing itu menatapku lagi. Entah mengapa aku kembali tersenyum melihatnya. Dengan bodohnya aku merasa Cing kuning tau apa yang sedang aku fikirkan. Aku sedikit memiringkan wajah padanya dan kembali dengan bodohnya bertanya..

“Cing, kamu ingat ga sama dia..?”

…..

“Itu.. yang pernah foto-in kamu dulu itu.. ”

images

@YWAR, 00.16, teruntuk sahabat, semoga dirimu juga masih menyukai bintang di langit sana. 

Diposkan pada Lintas Waktu

Kali Ini Terharu

A: Hallo Pa, Assalamu’alaikum..
P: Ha..! Wa’alaikumussalam. Sedang dinas kini, tu? (pertanyaan rutin pembuka topik)
A: Ndak, Pa. Lagi ngaji bareng kelompok.
P: Oo..dimana? Barusan Apa nelfon mah.. (pertanyaan rutin kalo telfon nggak diangkat-angkat)
A: Di dekat Pasar Baru, Pa. Tadi lagi di jalan Pa, ndak terjawab telfonnya.
P: Oo.. Singgah ke wisma adek? (pertanyaan rutin kalo mendengar Pasar Baru)
A: Ndak kayaknya, Pa. Nanti kemalaman pulang ke asrama. Sering hujan juga soalnya. (Mataku melirik jam di pergelangan tangan kiri,sudah setengah enam sore aja)
P: Oo..ya lah. Kamu ulang tahun sekarang kan? (ini pertanyaan aneh, padahal baru tiga bulan yang lalu milad aku)
A: Haa?? Haha.. Ndak ada  Na ulang tahun sekarang, Pa. Udah lewat pun. (Apa habis makan apa ya? Sampe ngawur begini..)

Kresek.. kresek.. (suara gaduh diujung telfon, sayup-sayup terdengar si Bungsu ngetawain Apa karna ngawur tiba-tiba, disambut suara Ama yang terdengar tidak begitu jelas)

M: Halo, Na..
A: Iya, Ma.. Apa kok tadi bilang Lhona Ulang tahun, Ma. Kan udah lewat.
M: Ulang tahun versi tahun Hijriyah-nya?
A: (Berfikir keras, tanggal berapa Hijriyah sekarang? Nah lho, besok libur Maulid Nabi ya?) Eh, iya Ma.. Emang sekarang.. Hahaha
M: Iya kan? Nah, udah ya. Ama ndak bikin paket nelfon.
A: Iya, Ma..ndak apa.

Telfon ditutup setelah saling memberi salam penutup. Kok aku bisa nggak ingat sama sekali ya, kalo hari ini 11 Rabi’ul Awal. Nggak ada maksud ngerayain sama sekali sih. Yang romantisnya itu.. Apa yang cuek dan Ama yang sering lupa, jadi ingat… Oohh my God.. sumpah.. Aku dibikin terharu sama mereka..

Lup U.. Ama and Apa.. ^_^

hqdefault

Diposkan pada Lintas Waktu

Dipukul Palu

Segera sesuatu selalu datang untuk dipukul palu..
sama saja seperti ombak pantai..
datang, tuntas, lalu datang lagi.
Sebagian kita menyukainya, memoloskan diri, mengejar atau dikejar, lalu terjerembab, basah. Namun bangkit lagi untuk mengejar atau dikejar. Berakhir dengan ending sunset, lalu tersenyum simpul, bahagia. Diabadikan, dengan selfi.
Sebagian lagi membencinya, merutuk saat kena basah, mengumpat saat kena ciprat, melihat ngeri pada gulungan yang datang. Endingnya marah dengan sunset, karna semakin gelap maka semakin dingin. Membekukan mata hatinya.


Begitu katanya, kata dia dalam benak menggema.

Diposkan pada Surat Cintaku ^^

Aku Yakinkan pada Sejuta Masa

Aku mencintai rumah kelahiran melebihi cintaku pada sahabat di tanah rantau.

Bagaimanapun susahnya, kurangnya, sunyinya, kecilnya, pas-pasannya..aku akan merinduinya segera, sesaat setelah kaki ini melangkah menjauhi pintu untuk kembali berjuang di tanah rantau.

Rantau memang keren bagi orang kampung sepertiku. Berjalan menempuhnya sama menantangnya dengan menyelesaikan teka teki silang. Bikin penasaran dan ingin agar segera berakhir. Saat jatuh pada titik jenuh, tak ada tempat kembali senyaman rumah kelahiran.

Bagaimanapun, masakan ibu selalu memancing rindu masa lalu untuk berkata, “Ini adalah cinta selamanya yang tak tergantikan oleh makanan mahal manapun” (sesaat setelah menyentuh lidah). Tak akan ada rasa nyaman yang sama seperti saat merebahkan badan pada dinginnya kasur tipis lagi keras di kamar tidur mungil yang sudah beribu kali ditempeli kulit dekil masa lalu.

Bangunlah pagi-bagi. Hiruplah aroma rumput berembun di pematang sawah yang berbalut wangi asap dapur yang mengepul-ngepul. Lebih bikin candu dari pada putau, aku yakinkan pada sejuta masa.

Diposkan pada Lintas Waktu

Terpaksa Ikhlas

“Aaaaaaaaaaaaaakkkkkk…….”

Berguling kiri dan kanan, berulang-ulang layaknya sebuah kaleng minuman soda yang disepak bolak balik. Pada titik jenuhnya aku berhenti, membentangkan tangan di kedua sisi dengan melemparnya, layaknya inginnya ku melempar rasa ragu yang sedang mewabah di dalam kepala. Layar NB ku masih terang menyala. Tepat di dekatnya sebuah SAMSUNG standar merah hitam tergeletak. Berhasil aku lempar dengan asal berkat sebuah SMS menyesakkan yang baru saja masuk. Aku menatap lurus menembus loteng kamar, memecah khayalan buruk akan masa depan yang belum jelas akan benar-benar begitu.

Sebentar lagi purnama berganti. Aku benci “kembali” dadakan begini. Aku memang acapkali bosan di sini, mono setiap hari hanya begini-begini melulu. Tapi aku lebih muak kembali ke pangkuan kota yang penuh dengan poles tipuan. Kembali di cuci otak, agar berpura-pura ramah pada kemunafikan.

Andai ada pilihan lain, yang membuat keseharianku cukup dengan laptop, wi-fi, Hp dan buku, serta sedikit manusia sibuk dengan kepedulian tinggi tanpa pencintraan.. aku pasti tak akan menengok pada “kembali” selagi bisa. Tapi dunia tak diatur oleh rasa muak pada ubun-ubun seseorang. Terpaksa. Patuh pada sistem aneh yang manusia pembuatnya sendiri tak berkutik.

Just, terpaksa ikhlas. Berharap niat untuk ikhlas berujung berkah. Kata orang bijak, bukan rejeki yang mesti dirisaukan karena memang sudah ada jatahnya masing-masing kita. Tapi ibadah kita,sudah layakkah?

Diposkan pada Lintas Waktu

Perang dengan Langit

Mereka terburu-buru. sambil sesekali mengelap keringat. Menoleh jam di pergelangan tangan kiri berulang-ulang. Terus berkejaran dengan waktu menyusuri malam yang semakin pekat. Semuanya sudah diatur sesuai kesepakatan dan mereka tidak ingin terlambat sehingga membatalkan misi.

Ransel yang mereka bawa serasa semakin berat. Walau bagaimanapun isi di dalamnya tidak boleh rusak sedikitpun. Salah seorang dari mereka berhenti di sebuah warung yang letaknya nyaris tersembunyi di balik bayangan malam, membeli beberapa korek, sambil terus sesekali melihat kiri dan kanan. Dari kejauhan terlihat pemilik warung seperti berbisik-bisik padanya, bertanya sesuatu.

Ia menjawab sambil memelankan suaranya serendah mungkin..
“Ini perang angkasa TAHUN BARU..
Makhluk bumi menyerang langit dengan milyaran petasan roket..
Semoga langit tidak menyerang balik dengan hujan meteor..
Kami meniup terompet sebagai tanda akhir..
Semoga malaikat israfil tidak hadir..”